Beranda Seni Budaya Yaa Qoowiyu, Tradisi Sebaran Apem Ki Ageng Gribig

Yaa Qoowiyu, Tradisi Sebaran Apem Ki Ageng Gribig

33
0

Bintang9-Setiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa, masyarakat Jatinom Klaten menggelar tradisi adat sebaran apem yang di berinama Yaa Qowiyu. Tradisi yang sudah  berlangsung sejak jaman Sultan Agung ini di pakai untuk mengenang KI Ageng Gribiig usai beliau menunaikan rukun Islam yang kelima. Yaa Qowiyu sendiri adalah doa untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan umat  yang pernah di sampaikan KI Ageng Gribig kepada para santri santrinya.

Dalam tradisi Yaa Qowiyu, warga desa Jatinom membuat dua buah gunungan apem dengan berat ratusan kilogram, yang di usung lebih dari sepuluh santri dari Pesantren  Ki Ageng Gribig.  Bagi masyarakat desa Jatinom, tradisi  Ya Qowiyu tidak hanya sebuah tradisi adat yang sarat dengan makna dan simbol keluhuran dalam siar, tetapi juga mampu membangun pariwisata.

Terbukti setiap kali  Ya Qowiyu di laksanakan, roda ekonomi masarakat berputar di daerah Jatinom. Lebih dari seminggu warga menggelar pasar malam Ya Qowiyu. Dari pasar malam tidak hanya jual beli dan jasa hiburan, tetapi  kegiatan seni dan budaya juga di tampilkan  jelang puncak sebaran apem Ya Qowiyu.

Dalam tradisi Ya Qowiyu, dua buah gunungan apem seberat ratusan kilo nantinya akan di sebar sebarkan kepada masyarakat yang saat itu antri berharap berkah dari apem Ya Qowiyu.  Sebaran apem yang menjadi puncak dari Ya Qowiyu berawal saat Ki Ageng Gribig  pulang dari  Mekah usai menjalankan ibadah haji. 

Menurut cerita  Imron,  salah satu pengurus yayasan Ki Ageng Gribig dii kisahkan,  selain sebagai ulama besar sekaligus  guru Sultan Agung Hanyakrakusuma,  Ki Ageng Gribig di kenal juga sebagai senopati  Mataram.  Melalui pemikiran pemikiranya  Sultan Agung mampu menyatukan seluruh rakyat Nusantara.  Berkat KI Ageng Gribig Sultan Agung banyak menimba ilmu keluhuran budi dan agama. Terbukti dari keluhuranya,  banyak ajaran luhur ditinggalkan oleh Sultan Agung yang sampai sekarang masih menjadi tuntunan bagi masyarakat Jawa.

Diantaranya  ada di dalam serat Sastra gending karya Sultan Agung yang mengajarkan ilmu mistik kejawen ,  menyatukan ajaran tasawuf yang  pernah di tinggalkan oleh  para wali kemudian di satukan kedalam satu wadah, yang akhirnya di uraikan dan di tulis oleh  pujangga kraton Solo, R.ng Ronggowarsito , kedalam serat Wirid Hidayat Jati.

Sultan Agung juga mampu menyatukan perbedaan dua kalender Nusantara yaitu, tahun saka dan Hijjriyah  menjadi kalender tahun jawa yang di mulai pada bulan sura.

Keluhuran dan keluwihan Sultan Agung tak lepas dari peran Ki Ageng Gribig yang  mendidik beliau untuk menjadi salah satu raja Mataram Islam yang waskita dan winasis.  Penyebaran siar yang dilakukan oleh KI Ageng Gribig tidak hanya  berkutat di dalam kalangan istana, tetapi merambah ke desa desa yang ada di pelosok. Hingga akhirnya KI Ageng Gribig membangun pesantren di daerah Jatinom KLaten,  yang tak jauh dari lereng gunung Merapi.

Sekembalinya dari tanah suci, KI Ageng Gribig membawa oleh oleh kue gimbal yang terbuat dari gandum.  Setibanya dii pesantren, kue tersebut kemudian di bagi bagikan kepada para santri dan warga masyarakat yang ada di sekitar desa Jatiinom.  Tetapi banyaknya warga yang meminta kue gimbal, oleh oleh yang di bawa Ki Ageng Gribig tak cukup di bagikan.

Beliau lantas meminta Nyai Ageng untuk membuat kue dari tepung beras dan mencampurnya  dengan kue gimbal. Namun sebelum kue gimbal di campur dengan tepung beras, lebih dulu KI Ageng Gribig membaca doa Ya Qowiyu.  Doa tersebut memiliki makna memohon kekuatan kepada Gusti Allah,  agar santri dan mmasyarakat Jatinom senantiasa di beri berkah keselamatan dan kekuatan. 

‘Berawal dari kejadian  itu, maka tradisi Ya Qowiyu sampai sekarang tetap terus di lestarikan’ Terang Imron.

Sedangkan kue yang di campur dengan kue gimbal lanjut IMron, kemudian di beri nama kue apem, yang berasal dari kata Afuun. Dalam pengertianya Afuun memiliki makna silaturahmi yang saling maaf memaafkan. Oleh karenanya, seiring dengan berjalanya waktu dan pembagian apem di lakukan dengan cara di sebarkan , tradisi Ya Qowiyu di pakai sebagai ajang silaturahmi sekaligus siar.

Di harapkan  pada masa itu, siapa saja yang mengikuti ajaran Ki Ageng Gribig akan menjadi manusia seorang muslim yang soleh.

Sebaran Apem– Sejak pagi ribuan warga dari berbagai daerah  tumpek blek di sebuah tanah  lapang tak jauh dari makam Ki Ageng Gribig, menunggu jalanya acara sebaran apem.  Acara yang di laksanakan usai sholat Jumat, lebih dulu dua buah gunungan di arak dari halaman Masjid Jatinom ke makam Ki Ageng Gribig. Di tempat ini dua buah gunungan apem di doakan oleh para santri Ki Ageng Gribig. 

Selain dua buah  gunungan , puluhan ton apem  dari warga yang ingin ngalap berkah di tempatkan di sebuah menara  di tengah lapangan. Usai di doakan oleh para santri, dua buah gunungan kemudian di arak menuruni anak tangga menuju panggung tempat untuk di sebarkan. Secara keseluruhan kue apem yang di sebarkan lebih dari lima ton. Kebanyakan kue itu berasal dari warga masyarakat yang ingin ngalap berkah.  

Kue apem yang dipakai untuk ngalap berkah kebanyakan di beli dari para pedagang yang berjejer di sekitar makam. Satu bungkus kue apem berisi sepuluh buah di hargai sekitar tujuh ribu rupiah. Rata rata harga yang di tawarkan oleh para pedagang sama. Mereka para pedagang, kebanyakan penduduk asli Jatinom yang mengais rejeki pada saat tradisi Yaa Qowiyu di gelar.

Warga yang ngalap berkah tidak hanya datang dari daerah Klaten, tetapi banyak juga yang datang dari luar daerah.  Diantaranya Joga, Semarang, Jakarta, Surabaya dan daerah lainya.  Banyak cerita di kabulkanya penyuwunan mereka usai bersedakah apem.  Bagi warga yang bersedekah apem sepuluh buah, maka ia akan memperoleh kembali dua buah apem . selain apem, ada juga warga yang masih memakai cara kuno melengkapinya dengan bunga setaman.

Bagi masyarakat Jatinom, hal itu memang sudah biasa bahkan menjadi adat warga desa yang masih memegang teguh budaya Jawa. Tradisi tersebut memang tidak semua orang menjalaninya, tetapi  bagi warga yang lain kearifan lokal patut di lestarikan karena sarat makna di dalamnya. Bungga setaman jangan dianggap sebagai makanan setan, tetapi sebagai simbol wewangian agar segala apa yang di mohonkan tercapai tujuanya, dikabulkan Allah SWT./Bintang9

Artikel sebelumyaSolo Siap Mengirim Kader Calon Ulama Belajar ke Timteng
Artikel berikutnyaDengan Sholawat, Relawan Bintang Songo Sambut Gibran Teguh Di Kantor KPU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here