BINTANG9-Lima rekomendasi hasil rapat Syuriyah PBNU di bacakan oleh Plt Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Miftachul Akhyar untuk pembahasan rapat pleno PBNU yang berlangsung di Purwakarta, Jawa Barat

Kelima rekomendasi tersebut kata KH.Miftachul Akyar diantaranya salah satu langkah pembibitan kaderisasi generasi muda NU yang telah dilakukan PBNU adalah pengurusan beasiswa, baik di dalam maupun di luar negeri.

Forum syuriyah meminta, pengurus harian PBNU memikirkan masalah tersebut demi menjaga keberlangsungannya.

‘ Syuriyah PBNU merekomendasikan agar membuat badan khusus yang menangani masalah beasiswa.’Jelas KH.Miftachul Akyar.

Kedua, istilah AHWA—yang merupakan singkatan dari Ahlul Halli wal’ Aqdi kerap dikesankan oleh pihak di luar NU dengan AHWA(dengan huruf ha) sehingga berkonotasi negatif.

Oleh sebab itu Syuriyah PBNU memandang perlu mengusulkan untuk mengganti dengan istilah Ahli Halwa singkatan dari Ahlul Halli wal’ Aqdi.

Ketiga, pelaksanaan Muktamar ke 34 NU, akan diselenggarakan pada tahun 2020. Maka dari itu PBNU harus mulai menentukan berbagai langkah menyaring calon-calon Ahlul Halli wal ‘Aqdi yang dianggap memiliki kapabilitas dan kredibelitas dengan melibatkan Mustasyar.

PBNU terang Plt Rais Aam, membuat list nama-nama yang dianggap pantas untuk menjadi Ahlul Halli wal’ Aqdi dan membuat panduan yang baik kepada PCNU, agar terhindar kesan politis dan menghalang-halangi keinginan pihak tertentu.

Keempat, pemilihan Ketum PBNU harus melalui jalur Ahlul Halli wal ‘Aqdi sebagaimana pemilihan Rais Aam PBNU, seperti yang pernah diputusakan dalam Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama Nomor: 3736/A.II.03/06/2015 tentang Mekanisme Pemilihan Kepemimpinan Nahdlatul Ulama.

Kelima, Muktamar Ke-34 NU diharapkan dapat mengangkat berbagai isu nasional dan internasional, seperti isu masuknya kelompok ekstrem di tubuh BUMN, peredaran narkoba yang kian akut, keterlibatan NU dalam label halal, konsep wasathiyyah dalam pandangan Nahdlatul Ulama dan isu isu lainya.(*)